Kompetensi Kepala Sekolah Pengaruhi Kinerja Guru

Kompetensi guru dalam mengajar masih rendah. Berdasarkan hasil uji kompetensi guru (UKG) 2016, rata-rata nilai yang diraih masih di bawah standar, yakni 53 dari nilai maksimal 100.

Tak hanya guru, rata-rata hasil nilai uji kompetensi kepala sekolah pun masih di angka 45,92 pada 2015. Di tahun yang sama, rata-rata hasil nilai uji kompetensi pengawas secara nasional, yakni 41,49.

“Ujung-ujungnya berakibat pada rendahnya kapasitas siswa. Sehingga pada akhirnya yang jadi korban selalu siswa dan masa depan bangsa ini,” tutur Provincial Coordinator USAID Prioritas Sulawesi Selatan, Jamaruddin, dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (1/11/2016).

Rendahnya kinerja guru tersebut kemudian mendorong seorang pengawas sekolah di Maros, Nurcaya untuk mengorganisasi kepala sekolah supaya mengawasi satu guru pada jadwal yang sudah ditentukan bersama. Sayangnya, upaya tersebut tidak didukung dengan kompetensi kepala sekolah.

“Banyak guru setelah diawasi malah protes dengan nilai yang diberikan. Hasil penilaian supervisi kepala sekolah sering tidak konsisten. Mereka tidak mengetahui aspek-aspek yang dinilai dalam supervisi, misalnya pada pokok melayani perbedaan individu dan indikator-indikatornya,” papar Nurcahya.

Oleh sebab itu, dia kemudian menggagas supervisi kepala sekolah secara berkelompok, yaitu dengan dua sampai tiga orang. Hal ini bertujuan setiap kepala sekolah dapat saling mengisi dalam memahami instrumen-instrumen pengawasan.

“Setelah pengamatan selesai, kelompok tersebut menganalisis secara bersama hasilnya, dan membuat kesimpulan serta rekomendasi untuk menyusun program perbaikan kualitas pembelajaran berikutnya,” ujarnya.

Nurcahya menyebut, hasil analisis dan refleksi kemudian diteruskan kepada guru yang bersangkutan. “Hasil evaluasi menunjukkan mereka sangat puas dengan kegiatan ini, dan lebih bisa meningkatkan kapasitas guru,” tukasnya.

Sumber : news.okezone.com

Share