Perkembangan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya mengubah cara mahasiswa memperoleh informasi, tetapi juga mengubah peran perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi. Perpustakaan kini dituntut menjadi bagian dari transformasi digital kampus dengan menghadirkan layanan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan sivitas akademika.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Bapak Mufid, S.Ag., S.S., M.Hum., Ketua Umum Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS), dalam wawancara eksklusif bersama Suteki Technology di sela penyelenggaraan APPTIS 2026.
Menurut beliau, transformasi perpustakaan tidak lagi hanya berbicara tentang digitalisasi koleksi. Perubahan juga perlu terjadi pada pola pikir, kompetensi sumber daya manusia, hingga cara perpustakaan memberikan nilai tambah bagi proses pembelajaran dan penelitian.
Berikut enam insight penting yang dapat menjadi bahan refleksi bagi pengelola perpustakaan maupun pimpinan perguruan tinggi.
1. Transformasi Perpustakaan Dimulai dari Perubahan Mindset
“Hal yang paling lama dan sulit diubah itu adalah mindset dari para pengelola perpustakaan.”
Menurut Bapak Mufid, tantangan terbesar transformasi perpustakaan bukan terletak pada teknologinya. Saat ini berbagai solusi digital sudah tersedia dan semakin mudah diakses. Tantangan yang lebih besar justru berada pada kesiapan sumber daya manusia untuk menerima perubahan.
Hal ini menunjukkan bahwa transformasi digital perlu dimulai dari perubahan cara berpikir. Teknologi akan memberikan manfaat ketika diikuti dengan budaya kerja yang terbuka terhadap inovasi dan pembelajaran berkelanjutan.
2. Perpustakaan Bukan Lagi Sekadar Gudang Buku
“Perpustakaan tidak hanya sebagai gudangnya buku, tetapi sebuah ekosistem pengetahuan yang di dalamnya ada sumber referensi, literasi, dan interaksi pengguna… ada kehidupan di sana.”
Pandangan ini menggambarkan perubahan peran perpustakaan di era digital. Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi berkembang menjadi ruang yang mendukung pembelajaran, penelitian, dan kolaborasi akademik.
Artinya, keberhasilan perpustakaan tidak lagi diukur dari banyaknya koleksi yang dimiliki, tetapi dari bagaimana perpustakaan mampu membantu mahasiswa dan dosen memperoleh pengetahuan yang relevan serta membangun budaya literasi di lingkungan kampus.
3. Peran Pustakawan Kini Semakin Strategis
“Peran perpustakaan hari ini harus berubah menjadi research partner, methodology partner, dan juga menjadi bridging atau jembatan yang menghubungkan antara dosen dan informasi.”
Menurut Bapak Mufid, perkembangan teknologi tidak mengurangi peran pustakawan. Sebaliknya, peran tersebut justru semakin strategis.
Pustakawan diharapkan mampu menjadi mitra dalam proses penelitian, membantu sivitas akademika menemukan sumber referensi yang tepat, sekaligus menghubungkan pengguna dengan berbagai sumber informasi yang kredibel.
Dengan kata lain, pustakawan kini menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.
4. AI Membuat Kemampuan Baru Perlu Terus Dikembangkan
“Hari ini skill itu masanya hanya enam bulan, sehingga para pustakawan harus selalu meng-update skill-nya setiap enam bulan sekali.”
Perkembangan AI berlangsung sangat cepat dan memengaruhi berbagai bidang pekerjaan, termasuk perpustakaan.
Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi tidak lagi bersifat sesekali, tetapi perlu menjadi proses yang berkelanjutan. Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan kapasitas pustakawan melalui pelatihan, pendampingan, maupun pemanfaatan teknologi baru.
5. Layanan Perpustakaan Perlu Mengikuti Karakter Generasi Z
“Sudah saatnya kita meninggalkan cara-cara lama dan menggunakan cara-cara baru menyesuaikan dengan generasi yang kita layani, yaitu Generasi Z.”
Mahasiswa saat ini tumbuh di lingkungan digital yang terbiasa memperoleh informasi secara cepat dan fleksibel. Kondisi tersebut membuat ekspektasi terhadap layanan perpustakaan ikut berubah.
Artinya, transformasi perpustakaan bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memahami kebutuhan pengguna. Layanan yang mudah diakses, terintegrasi, dan memberikan pengalaman yang lebih baik akan semakin relevan bagi generasi saat ini.
6. Transformasi Perlu Dilakukan Mulai Sekarang
“Mari kita melakukan transformasi secepat-cepatnya, baik secara teknologi maupun penguatan kapasitas bagi para pustakawan.”
Pesan tersebut menjadi penutup sekaligus ajakan bagi seluruh perguruan tinggi untuk mempercepat transformasi perpustakaan.
Dalam praktiknya, transformasi tidak hanya berkaitan dengan pengadaan teknologi. Kampus juga perlu membangun strategi yang mencakup pengembangan SDM, penguatan layanan, serta integrasi perpustakaan dengan ekosistem digital yang dimiliki.
Semakin cepat kampus memulai proses tersebut, semakin besar peluang untuk menghadirkan layanan perpustakaan yang mampu menjawab kebutuhan pendidikan tinggi di masa depan.
Apa Artinya bagi Perguruan Tinggi?
Enam insight yang disampaikan Ketua APPTIS menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari transformasi digital kampus secara keseluruhan.
Perpustakaan perlu berkembang menjadi pusat pengetahuan yang mendukung pembelajaran, penelitian, dan inovasi. Untuk mewujudkannya, perguruan tinggi tidak hanya memerlukan teknologi, tetapi juga tata kelola yang baik, peningkatan kompetensi SDM, serta sistem yang mampu menghubungkan berbagai layanan akademik dalam satu ekosistem.
Dengan pendekatan tersebut, perpustakaan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
Bagaimana E-Library Mendukung Transformasi Perpustakaan?
Transformasi perpustakaan membutuhkan lebih dari sekadar digitalisasi koleksi. Kampus juga memerlukan sistem yang mampu mendukung pengelolaan layanan perpustakaan secara lebih modern, terstruktur, dan terintegrasi dengan ekosistem digital perguruan tinggi.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Suteki Technology menghadirkan E-Library, sistem informasi manajemen perpustakaan yang dirancang khusus bagi perguruan tinggi.
Beberapa dukungan yang diberikan E-Library antara lain:
Pengelolaan Perpustakaan yang Lebih Terintegrasi
Kelola katalog, koleksi digital, sirkulasi peminjaman, hingga repository institusi dalam satu sistem sehingga proses administrasi menjadi lebih efisien dan data lebih mudah dikelola.
Mendukung Akses Pengetahuan yang Lebih Fleksibel
Mahasiswa dan dosen dapat mengakses koleksi digital serta berbagai sumber referensi secara lebih mudah, kapan pun dan dari mana pun sesuai kebutuhan.
Menjadi Bagian dari Ekosistem Digital Kampus
E-Library dapat diintegrasikan dengan SIAKAD 4.0, Civitas LMS, dan layanan digital kampus lainnya sehingga alur informasi menjadi lebih terhubung dan mendukung pengalaman pengguna yang lebih baik.
Mendukung Transformasi Layanan Perpustakaan
Dengan sistem yang terus dikembangkan mengikuti kebutuhan perguruan tinggi, E-Library membantu kampus menghadirkan layanan perpustakaan yang lebih modern sekaligus memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pengetahuan di era digital.
Ingin Mengembangkan Perpustakaan Digital yang Lebih Modern?
Jika perguruan tinggi Anda sedang mempersiapkan transformasi perpustakaan atau ingin membangun layanan perpustakaan yang lebih terintegrasi, ini bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem yang digunakan saat ini.
→ Request Demo E-Library [Link Form Request Demo] dan lihat bagaimana sistem membantu mengelola layanan perpustakaan digital secara lebih terstruktur dan terintegrasi.
→ Konsultasikan kebutuhan perpustakaan kampus Anda bersama tim Suteki Technology [Link Whatsapp] untuk menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan institusi.
Sumber
Wawancara eksklusif Suteki Technology bersama Bapak Mufid, S.Ag., S.S., M.Hum., Ketua Umum Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS), pada kegiatan APPTIS 2026.