Pelaporan perguruan tinggi bukan hanya persoalan mengirimkan data ke PDDIKTI. Di baliknya, terdapat proses akademik, keuangan, penerimaan mahasiswa baru, hingga administrasi yang perlu dikelola secara konsisten dan saling terhubung.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan yang dibawa Suteki Technology dalam Workshop Nasional XI FORPTI 2026 yang berlangsung pada 19–21 Agustus 2026 di Bandung. Kegiatan ini diikuti hampir 100 peserta dan menjadi ruang diskusi bagi pengelola serta operator perguruan tinggi mengenai tata kelola data dan pelaporan.
Suteki Technology turut hadir melalui sesi pemaparan bersama Tajudin Cholil, Higher Education Solutions Consultant, serta membuka booth untuk berdiskusi langsung mengenai tantangan operasional dan kebutuhan digitalisasi kampus.
Mengapa Pelaporan Tidak Bisa Dipisahkan dari Tata Kelola Data Kampus?

Operator memiliki peran penting dalam memastikan data kampus siap dilaporkan. Namun, pekerjaan mereka sering kali tidak berhenti pada proses pelaporan.
Data akademik bisa berada di satu sistem, pembayaran dikelola bagian keuangan, sementara informasi calon mahasiswa tersimpan pada proses PMB. Ketika data berjalan sendiri-sendiri, kampus perlu melakukan pengecekan, pencocokan, dan sinkronisasi berulang.
Dalam materi FORPTI 2026, kondisi tersebut digambarkan sebagai “silo data”, yaitu ketika informasi tersedia tetapi masih terpisah di masing-masing unit.
Artinya, ketika terdapat kendala pada pelaporan, kampus tidak cukup hanya melihat proses di tahap akhir. Perlu ditelusuri juga:
Dari mana data berasal? Apakah data antarunit sudah terhubung? Dan apakah semua bagian menggunakan sumber informasi yang konsisten?
Single Source of Truth untuk Mengurangi Perbedaan Data Antarunit
Salah satu pendekatan yang dibahas adalah Single Source of Truth (SSOT).
Konsep ini mendorong perguruan tinggi menggunakan sumber data yang konsisten untuk berbagai kebutuhan operasional. Bagian akademik, keuangan, pimpinan, maupun unit lainnya tidak perlu terus bertukar file dan mencocokkan informasi dari banyak sumber.
Tujuannya bukan sekadar mengumpulkan seluruh data dalam satu tempat, tetapi memastikan data dapat digunakan kembali oleh proses yang membutuhkannya secara lebih konsisten.
Dengan pengelolaan seperti ini, kampus dapat mengurangi pekerjaan administratif berulang sekaligus memiliki dasar informasi yang lebih baik untuk monitoring dan pengambilan keputusan.
Baca juga: Penyimpanan Dokumen Akademik Terpusat: Apa yang Perlu Dipersiapkan Kampus?
Apa yang Banyak Dibicarakan Peserta di Booth Suteki Technology?

Diskusi di booth menunjukkan bahwa pelaporan masih menjadi salah satu perhatian utama operator perguruan tinggi.
Open Feeder menjadi salah satu solusi yang cukup banyak dibicarakan. Sejumlah peserta telah menggunakan Open Feeder, sementara lainnya datang untuk menanyakan proses instalasi dan penggunaannya dalam membantu aktivitas pelaporan.
Namun, percakapan dengan peserta tidak hanya berhenti pada PDDIKTI.
Ketika kebutuhan kampus dibahas lebih jauh, muncul pula tantangan dalam pengelolaan data akademik, PMB, keuangan, dan administrasi perguruan tinggi.
Beberapa kampus juga meminta melihat secara langsung bagaimana SIAKAD 4.0 bekerja melalui sesi demo yang tersedia di booth.
Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan transformasi digital kampus tidak hanya berada pada tahap pelaporan, tetapi juga pada bagaimana data dikelola sejak proses awal.
Dari Sistem Akademik Menuju Ekosistem Data Kampus
Data mahasiswa sebenarnya memiliki perjalanan yang panjang.
Data dimulai sejak calon mahasiswa mengikuti proses PMB, kemudian digunakan dalam aktivitas akademik, pembayaran, pembelajaran, hingga akhirnya menjadi bagian dari pelaporan dan evaluasi institusi.
Jika setiap proses menggunakan sistem yang berdiri sendiri tanpa integrasi, pekerjaan rekonsiliasi dapat kembali dilakukan secara manual.
Karena itu, salah satu insight penting dari FORPTI 2026 adalah bahwa perguruan tinggi perlu melihat digitalisasi sebagai pembangunan ekosistem data, bukan sekadar penambahan aplikasi.
Dalam ekosistem Suteki Technology, SIAKAD 4.0 diposisikan sebagai sistem akademik terintegrasi dan dapat terhubung dengan berbagai aplikasi lain, termasuk Open Feeder untuk mendukung proses pelaporan PDDIKTI.
Dengan pendekatan tersebut, data tidak hanya tersimpan secara digital, tetapi dapat mengalir dan digunakan kembali melalui proses yang saling berhubungan.
Apa Artinya bagi Perguruan Tinggi?
Diskusi selama FORPTI 2026 memperlihatkan bahwa pelaporan yang baik dimulai dari tata kelola data yang baik.
Operator memang berada di garis depan proses pelaporan, tetapi kualitas data tidak seharusnya menjadi tanggung jawab satu bagian saja.
Perguruan tinggi perlu membangun proses yang memungkinkan data dikelola secara konsisten sejak awal, digunakan oleh unit yang membutuhkan, dan lebih mudah dipersiapkan ketika masuk ke tahap pelaporan.
Dengan begitu, digitalisasi dapat membantu kampus bergerak dari proses yang terfragmentasi menuju tata kelola yang lebih terintegrasi.
FORPTI 2026 Menjadi Ruang untuk Mendengar Kebutuhan Nyata Kampus
Keikutsertaan Suteki Technology dalam FORPTI 2026 tidak hanya menjadi kesempatan untuk berbagi perspektif mengenai tata kelola data.
Interaksi dengan peserta juga memberikan gambaran mengenai kebutuhan nyata perguruan tinggi, mulai dari pelaporan, penggunaan Open Feeder, sistem akademik, PMB, keuangan, hingga administrasi kampus.
Kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital setiap perguruan tinggi memiliki konteks yang berbeda.
Karena itu, teknologi perlu disertai proses implementasi dan pendampingan agar sistem benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional kampus. Pendekatan ini sejalan dengan value proposition Suteki Technology dalam mendukung transformasi digital melalui sistem terintegrasi dan pendampingan berkelanjutan.
Ringkasan
FORPTI 2026 menunjukkan bahwa tantangan pelaporan perguruan tinggi tidak dapat dipisahkan dari tata kelola data di proses sebelumnya.
Data yang tersebar antarunit dapat meningkatkan pekerjaan manual dan risiko ketidakkonsistenan. Integrasi dan pendekatan Single Source of Truth dapat membantu perguruan tinggi membangun sumber informasi yang lebih terstruktur.
Pada akhirnya, pelaporan yang baik tidak hanya membutuhkan tools pelaporan, tetapi juga fondasi data dan sistem kampus yang saling terhubung.
Bangun Tata Kelola Data Kampus yang Lebih Terintegrasi
Jika pengelolaan data akademik, keuangan, PMB, dan pelaporan masih berjalan melalui proses yang terpisah, kampus dapat mulai mengevaluasi bagaimana setiap sistem saling terhubung.
SIAKAD 4.0 membantu perguruan tinggi membangun pengelolaan akademik dalam satu ekosistem dan dapat terintegrasi dengan berbagai solusi pendukung untuk kebutuhan operasional kampus.
→ Request Demo SIAKAD 4.0 [Link Form Request Demo]
→ Konsultasikan kebutuhan transformasi digital perguruan tinggi bersama tim Suteki Technology [Link Whatsapp]