Perpustakaan perguruan tinggi tidak cukup hanya memiliki koleksi lengkap, sistem yang baik, dan fasilitas yang memadai. Rencana Strategis atau Renstra perpustakaan perlu disusun berdasarkan kebutuhan sivitas akademika dan dampak yang ingin diberikan terhadap perguruan tinggi.
Pesan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama Dr. Labibah Zain, M.LIS, Dosen Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam webinar Suteki Technology bertajuk “Membangun Renstra Perpustakaan: Strategi Perpustakaan Digital Terintegrasi di Perguruan Tinggi.”
Dalam sesi tersebut, Dr. Labibah mengajak pustakawan dan pengelola perpustakaan melihat Renstra bukan sekadar dokumen administratif atau daftar program tahunan. Renstra perlu menjadi arah pengembangan agar perpustakaan semakin relevan dengan kebutuhan mahasiswa, dosen, dan institusi.
Renstra Perpustakaan Perlu Dimulai dari Kebutuhan Sivitas Akademika
Menurut Dr. Labibah, salah satu hal yang sering terlewat ketika menyusun Renstra adalah memahami persoalan yang benar-benar dihadapi pengguna perpustakaan.
Di lingkungan perguruan tinggi, kebutuhan tersebut bisa sangat beragam.
Mahasiswa membutuhkan dukungan untuk mencari referensi, menyusun tugas akhir, menggunakan sumber informasi yang valid, hingga meningkatkan kemampuan menulis akademik. Sementara dosen dapat membutuhkan dukungan dalam penelitian, publikasi ilmiah, dan pengembangan karier akademik.
Karena itu, penyusunan program perpustakaan dapat dimulai dengan pertanyaan:
“Apa persoalan yang sedang dihadapi sivitas akademika dan bagaimana perpustakaan dapat membantu memberikan solusi?”
Dari kebutuhan tersebut, perpustakaan dapat mengembangkan koleksi, layanan literasi informasi, pelatihan penggunaan sumber referensi, hingga program pendampingan yang lebih relevan.
Artinya, keberhasilan perpustakaan tidak hanya dilihat dari jumlah koleksi atau banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi juga dari perubahan yang dirasakan penggunanya.
Perpustakaan Perlu Bergerak dari Pengelola Koleksi Menjadi Mitra Strategis Kampus
Webinar juga membahas perubahan paradigma perpustakaan.
Perpustakaan yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada kegiatan teknis dan internal perlu berkembang menjadi pusat pengetahuan yang ikut menjawab kebutuhan perguruan tinggi.
Beberapa pergeseran yang dibahas antara lain dari pencarian informasi menuju literasi informasi, dari dominasi koleksi tercetak menuju akses digital, serta dari perpustakaan yang berdiri sendiri menuju kolaborasi dan jejaring.
Perpustakaan juga tidak seharusnya hanya menjadi pelengkap ketika kampus menghadapi akreditasi.
Sebaliknya, koleksi, SDM, layanan, sistem, dan program perpustakaan perlu memberikan manfaat yang dapat dirasakan dalam aktivitas akademik sehari-hari.
Misalnya, ketika program literasi informasi membantu dosen menghasilkan publikasi yang lebih baik atau membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akhirnya, kontribusi perpustakaan dapat ikut mendukung pencapaian institusi secara lebih luas.
Bagaimana Mengukur Dampak Program Perpustakaan?
Agar Renstra tidak berhenti pada daftar kegiatan, Dr. Labibah memperkenalkan pendekatan logic model:
Needs → Input → Action → Output → Outcome → Impact
Prosesnya dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan pengguna. Perpustakaan kemudian melihat sumber daya yang dimiliki, menentukan program yang akan dilakukan, mengukur hasil langsung, hingga melihat perubahan dan dampaknya.
Sebagai contoh, jika salah satu kebutuhan perguruan tinggi adalah meningkatkan kemampuan publikasi ilmiah dosen, perpustakaan dapat menyediakan sumber referensi dan program literasi informasi.
Output dapat berupa terlaksananya pelatihan dan jumlah peserta.
Namun, pengukuran tidak berhenti di sana.
Outcome dapat dilihat dari meningkatnya kemampuan peserta mencari referensi, menggunakan reference tools, atau menulis secara lebih baik. Sedangkan impact dapat terlihat ketika kompetensi tersebut ikut mendukung publikasi, pengembangan karier akademik dosen, hingga pencapaian perguruan tinggi.
Pendekatan ini membantu perpustakaan membangun program yang lebih terukur sekaligus menunjukkan kontribusinya kepada institusi.
Mengapa Visi Perpustakaan Harus Selaras dengan Perguruan Tinggi?
Renstra perpustakaan juga perlu memiliki hubungan yang jelas dengan arah pengembangan institusi.
Jika perguruan tinggi memiliki visi untuk memperkuat penelitian, misalnya, perpustakaan dapat melihat bagaimana koleksi, layanan, dan programnya mendukung kebutuhan penelitian dosen maupun mahasiswa.
Begitu juga ketika institusi ingin meningkatkan kualitas pembelajaran, publikasi ilmiah, atau rekognisi akademik.
Dengan demikian, visi perpustakaan tidak berjalan sendiri. Perpustakaan menjadi bagian dari strategi perguruan tinggi dalam mencapai tujuan institusinya.
Renstra yang terdokumentasi dengan baik juga membantu menjaga keberlanjutan program. Ketika terjadi pergantian pengelola atau pimpinan, pengembangan perpustakaan tidak perlu selalu dimulai kembali dari awal.
Transformasi Digital Bukan Sekadar Memindahkan Layanan ke Online
Transformasi digital turut menjadi bagian penting dalam pengembangan perpustakaan.
Menurut Dr. Labibah, keberadaan sistem membantu perpustakaan mengelola koleksi dan layanan dengan lebih mudah, terutama ketika jumlah informasi yang dikelola semakin besar.
Namun, digitalisasi tidak cukup hanya dengan menyediakan e-book atau membuat layanan dapat diakses secara online.
Dalam konteks perguruan tinggi, sistem perpustakaan juga perlu semakin terhubung dengan ekosistem institusi agar perpustakaan tidak bekerja sebagai unit yang terpisah.
Hal ini menunjukkan bahwa strategi perpustakaan digital perlu melihat hubungan antara teknologi, layanan, kebutuhan pengguna, dan proses akademik kampus.
Apa yang Dapat Dipelajari Perguruan Tinggi?
Webinar ini menunjukkan bahwa penyusunan Renstra perpustakaan sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan:
“Fasilitas atau program apa yang ingin ditambahkan?”
Tetapi dari pertanyaan:
“Apa kebutuhan sivitas akademika dan dampak apa yang ingin diberikan perpustakaan?”
Ketika kebutuhan tersebut sudah diketahui, perpustakaan dapat menentukan koleksi, layanan, program, SDM, kolaborasi, hingga teknologi yang diperlukan.
Dengan pendekatan tersebut, perpustakaan dapat berkembang dari unit pendukung menjadi mitra strategis perguruan tinggi dalam mendukung pembelajaran, penelitian, pengembangan SDM, serta pencapaian institusi.
Bagaimana Civitas eLibrary Mendukung Perpustakaan Digital yang Lebih Terintegrasi?
Renstra yang baik membutuhkan dukungan sistem agar strategi dapat diterapkan dalam operasional sehari-hari.
Civitas eLibrary membantu perguruan tinggi mengelola perpustakaan konvensional dan digital, termasuk pengelolaan koleksi dan sirkulasi, anggota, pengadaan, laporan dan statistik, hingga pencarian koleksi. Sistem ini juga mendukung beragam koleksi akademik seperti buku, e-book, jurnal, tesis, disertasi, tugas akhir, skripsi, artikel, dan multimedia.
Civitas eLibrary juga mendukung integrasi dengan SIAKAD 4.0, termasuk pemanfaatan data mahasiswa, dosen dan asisten, pembayaran denda perpustakaan, serta status bebas pinjam yang dapat berkaitan dengan aktivitas kelulusan.
Dengan proses yang lebih terhubung, teknologi dapat membantu perpustakaan bergerak dari sekadar mengelola koleksi menjadi bagian dari ekosistem digital perguruan tinggi.
→ Request Demo Civitas eLibrary [Link Form Request Demo]
→ Konsultasikan kebutuhan transformasi digital perpustakaan bersama tim Suteki Technology [Link Whatsapp]
Ringkasan
Renstra perpustakaan perlu disusun berdasarkan kebutuhan nyata sivitas akademika dan dampak yang ingin diberikan kepada institusi. Perpustakaan juga perlu bergerak dari fokus teknis menuju layanan yang lebih strategis, kolaboratif, dan terintegrasi.
Melalui pendekatan Needs → Input → Action → Output → Outcome → Impact, perpustakaan dapat mengukur bukan hanya aktivitas yang dilakukan, tetapi perubahan yang dihasilkan bagi pengguna.
Transformasi digital kemudian menjadi salah satu pendukung agar layanan, data, dan proses perpustakaan dapat dikelola dengan lebih terstruktur serta semakin terhubung dengan ekosistem perguruan tinggi.
FAQ
Apa yang dimaksud dengan Renstra perpustakaan?
Renstra perpustakaan adalah rencana strategis yang menjadi arah pengembangan perpustakaan dalam periode tertentu, mulai dari tujuan, program, layanan, hingga dampak yang ingin dicapai.
Mengapa Renstra perpustakaan perlu berorientasi pada dampak?
Karena keberhasilan perpustakaan tidak hanya diukur dari jumlah koleksi atau kegiatan, tetapi juga dari manfaat dan perubahan yang dirasakan sivitas akademika serta kontribusinya terhadap tujuan perguruan tinggi.
Apa peran digitalisasi dalam Renstra perpustakaan?
Digitalisasi dapat membantu pengelolaan koleksi, layanan, dan informasi menjadi lebih terstruktur sekaligus membuka peluang integrasi perpustakaan dengan sistem akademik dan ekosistem digital kampus.